|
Ayat-ayat
Al-Quran Mengenai
Keutamaan para Sahabat r.ahum.
Allah telah berfirman:
"Sesungguhnya Allah
telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang
telah mengikutinya (Nabi) dalam keadaan kesusahan, sesudah hati
segolongan mereka hampir-hampir berpaling, kemudian Allah menerima
taubat mereka, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengasih Maha Penyayang
terhadap mereka sekalian. Dan terhadap tiga orang yang ketinggalan
(tidak ikut serta pergi berperang), sampai apabila dirasakan bumi
ini telah sempit baginya, padahal sebelum itu dirasakannya luas,
dan terasa bahwa dirinya sudah benar-benar tertekan, sehingga mereka
meyakini bahwa kini tiada tempat mengadu dari ketetapan Allah itu
melainkan den an kembah kepadanya saja, lalu Allah mengabulkan taubat
mereka karena mereka terus memohon taubat kepadanya, sesungguhnya
Allah itu Dia adalah Maha Penerima taubat Maha Penyayang.' (At-Taubah:
117-118)
Ayat ini menggambarkan kejujuran para sahabat radhiallahuanhum terhadap
Allah dan RasulNya, apabila telah berbuat sesuatu yang salah, segera
mereka kembali bertaubat, dan sanggup menanggung segala hukuman
yang bakal dikenakan ke atas mereka, demi karena hendak mensucikan
diri mereka dari kotoran dosanya itu. Demikian pula ayat ini mengandung
teguran Allah ke atas Nabi SAW yang ringan mengizinkan sebagian
sahabat yang membuat keuzuran untuk melepaskan diri dari tugas berjihad
dengan mengemukakan alasan yang tidak wajar. Ayat ini turun ke atas
tiga orang sahabat yang membelakangi jihad tanpa sebab-sebab yang
wajar.
Sesungguhnya Allah
telah meridhai kaum Mukminin ketika mereka memberikan bai'at kepadamu
di bawah pohonan itu, karena Allah mengetahui apa yang ada di dalam
hati mereka, lalu diturunkan ketenangait ke atas mereka serta dibalasi
mereka dengan pembukaan (penaklukan Makkah) yang dekat. Begitu pula
dengan harta rampasan yang banyak, yang bakal mereka mendapatkannya,
dan adalah Allah itu Maha Perkasa Maha Bijaksana." (Al-Fath: 18-19)
Ayat ini memuji sikap para sahabat Nabi SAW yang bersabar, ketika
mereka dihalangi dari memasuki Makkah untuk berumrah pada peristiwa
di Hudaibiyah, serta Allah ta'ala menjanjikan mereka penaklukan
Makkah yang akan terjadi tidak berapa lama lagi.
"Orang-orang pertama
dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar, (yakni yang memasuki
Islam), dan mereka yang mengikutinya dengan baik, Allah meridhai
mereka, dan mereka pun meridhainya, dan disediakan Allah buat mereka
syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungAl-sungai, mereka kekal
di dalamnya buat selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar."
(At-Taubah: 100)
Ayat ini memuji sikap kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang memeluk
Islam dan bersabar menanggung segala bala bencana semata-mata karena
menghendaki keridhaan Allah dan RasulNya, maka oleh Allah dijanjikan
kepada mereka balasan syurga dan kenikmatannya yang mereka akan
mendudukinya buat selamalamanya.
"Dan bagi orang-orang
fakir (lemah) dan melarikan diri (berhijrah) yang diusir dari kampung
halamannya dan (dirampas) harta bendanya karena menginginkan kelebihan
(nikmat) dari Allah dan keridhaannya, dan mereka (bersedia) menolong
Allah dan RasulNya, mereka itulah orang-orang yang benar. Dan mereka
yang menduduki kota (Madinah) dan (setelah) beriman, mereka sangat
suka orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menyimpan
keinginan di dalam dada mereka dari apa yang diberikan (kepada orang-orang
itu), karena mereka lebih mengutamakan orang lain dari diri sendiri,
kendatipun mereka sedang berada dalam kesusahan. Dan siapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang
yang beruntung." (Al-Hasyr: 8-9)
Suatu pujian dari Allah ta'ala terhadap orang-orang yang berhijrah
dari Makkah untuk menetap di Madinah karena hendak menyelamatkan
kepercayaan mereka, dan supaya dapat menyembah Allah, Tuhan yang
sebenarnya. Begitu pula dengan sikap kaum Anshar yang mahu menerima
orang-orang pelarian Makkah itu, memberi mereka perlindungan, bantuan
dan segala keperluan yang mereka perlukan. Malah mereka selalu mengutamakan
orang-orang pelarian ini dari diri mereka sendiri, karena hanya
hendak mencari keridhaan Allah dan RasuINya, meskipun mereka terpaksa
berkorban apa saja. Mereka ini dikatakan Allah sebagai orang-orang
yang beruntung dunia dan akhirat.
"Allah telah
menurunkan sebaik-baik bicara, iaitu Kitab (Al-Quran) yang serupa
(mutu ayat-ayatnya) yang berulang-ulang, gemetar karenanya bulu
roma orang-orang yang memang takutkan Tuhannya, kemudian menjadi
tenang pula bulu romanya dan hatinya kepada zikir (mengingati) Allah.
Itulah dia petunjuk Allah, yang diberikan petunjuk itu kepada siapa
yang dikehendakinya. Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tiada
lagi siapa yang dapat menunjukinya." (Az-Zumar: 23)
"Hanyasanya yang beriman
dengan ayat-ayat Kami ini, ialah mereka yang apabila diingatkan
dengan ayat-ayat itu, mereka lalu menyungkur sujud serta bertasbih
dengan pujian terhadap Tuhan mereka, dan mereka tiada mengangkat
diri. Terangkat lambungan mereka dari tempat tidur mereka (yakni
meninggalkan tidur) karena hendak menyeru Tuhan mereka dengan penuh
rasa takut dan harap, dan mereka membelanjakan sebahagian dari apa
yang Kami kurniakan kepada mereka. Tiada suatu jiwa pun yang mengetahui
apa yang disediakan buat mereka dari cahaya mata (yakni berbagai-bagai
nikmat) sebagai balasan terhadap apa yang mereka sudah kerjakan."
(As-Sajdah: 15-17)
Demikianlah sifat para sahabat itu, apabila mendengar ayat-ayat
Al-Quran dibacakan kepada mereka, gemetarlah seluruh anggota mereka,
karena sangat menghormati Kalamullah itu, lalu patuh kepada semua
tuntutannya, karena itulah hati yang mendapat petunjuk dari Tuhan
yang menciptakannya, karena sesat itu pada bila-bila masa saja mungkin
menimpa, apabila Allah ta'ala mengangkat tangan dari melindunginya.
Mereka juga tidak lupa rukuk dan sujud karena mengharapkan anugerah
terhadap apa yang mereka kerjakan itu. Itulah sifatnya para sahabat
Nabi SAW
"Dan apa yang ada
di sisi Allah itu adalah baik dan kekal bagi orang-orang yang beriman,
dan kepada Tuhan mereka bertawakkal. Dan mereka yang menjauhi dosa-dosa
besar dan perbuatan keji dan apabila mereka marah, mereka suka memberi
maaf. Dan mereka yang menyambut panggilan Tuhan mereka (untuk beriman),
lagi pula mereka menegakkan shalat, dan segala urusan mereka lakukan
dengan bermusyawarah di antara sesama mereka, dan mereka membelanjakan
dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka. Dan mereka yang apabila
ditimpa penganiayaan, mereka senantiasa bantu- membantu." (As-Syura:
36-39)
Ini lagi dari sifat-sifat yang disebutkan Allah ta'ala buat para
sahabat Nabi SAW iaitu apabila berlaku sesuatu yang merisaukan,
mereka serahkan perkaranya kepada Allah ta'ala. Mereka senantiasa
menjauhkan diri dari perbuatan keji, suka memaafkan orang yang bersalah,
suka bermusyawarah dari hal yang menyangkut diri mereka, bila ditimpa
bencana sering yang satu membantu yang lain, dan mereka tidak lupa
menafkahkan apa yang dikurniakan Allah dari kelebihan di dalam tangannya.
Di samping menunaikan segala kewajiban yang pokok, seperti shalat,
puasa, zakat dan haji. Semua sifat-sifat ini patutlah menjadi cermin
kepada setiap Muslim Muslimah agar diliputi dirinya dengan rahmat
Allah ta'ala.
"Di antara orang-orang
yang beriman itu ada orang-orang yang telah menepati apa yang dijanjikan
mereka kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur (mati), dan
ada yang menunggu-nunggu, dan mereka tiada sedikit pun mengubah
janji mereka itu. Agar Allah akan membalas orang-orang benar itu
karena kebenaran mereka, dan disiksa pula orang-orang yang munafik,
jika Dia kehendaki, ataupun dimaafkan mereka itu, sesungguhnya Allah
itu adalah sangat suka mengampun dan mengasihani." (Al-Ahzab:
23-24)
Setiap kali mereka menempuh medan jihad, hasrat mereka ialah untuk
mencapai syahid dengan apa cara sekalipun. Maka ada di antara mereka
yang dipenuhi niat yang disimpan di dalam hatinya, yakni mendapat
syahid, dan ada yang tidak, lalu dia terus menunggu dan mencari
peluang yang baru. Tidak seperti orang munafik, yang bebuih lidahnya
menyebut syahid, namun di dalam hatinya tidak sedikit pun mencita-citakannya.
Malah ada kalanya mereka inginkan kehancuran Islam disebabkan benci
hatinya terhadap Islam dan kaum Muslimin.
"Ataupun orang
yang mematuhi (Tuhannya) di sepanjang malam dalam keadaan bersujud
dan berdiri (menjalankan shalat) dan dia bimbang tentang hari akhirat
serta mengharapkan rahmat Tuhannya, katakanlah, adakah sama orang
yang mengetahui dengan orang yang tiada mengetahui?!' (Az-Zumar:
9)
Tentu tidak sama orang yang patuh dengan orang yang tidak patuh.
Orang yang membuka mata untuk beribadat kepada Allah di waktu malam,
dengan orang yang tidur nyenyak di atas kasurnya. Jadi jika menginginkan
balasan Allah yang baik, hendaklah bekerja kuat dalam menunjukkan
kepatuhan kepadanya.
Kembali
ke Atas
|
|