web space | free website | Web Hosting | Free Website Submission | shopping cart | php hosting
 
   
Pembukaan  
Daftar Isi  
   
   
   
Link ke Jihad di Chechnya  
   

Ayat-ayat Al-Quran Mengenai
Keutamaan para Sahabat r.ahum.

Allah telah berfirman:

"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang telah mengikutinya (Nabi) dalam keadaan kesusahan, sesudah hati segolongan mereka hampir-hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengasih Maha Penyayang terhadap mereka sekalian. Dan terhadap tiga orang yang ketinggalan (tidak ikut serta pergi berperang), sampai apabila dirasakan bumi ini telah sempit baginya, padahal sebelum itu dirasakannya luas, dan terasa bahwa dirinya sudah benar-benar tertekan, sehingga mereka meyakini bahwa kini tiada tempat mengadu dari ketetapan Allah itu melainkan den an kembah kepadanya saja, lalu Allah mengabulkan taubat mereka karena mereka terus memohon taubat kepadanya, sesungguhnya Allah itu Dia adalah Maha Penerima taubat Maha Penyayang.' (At-Taubah: 117-118)
Ayat ini menggambarkan kejujuran para sahabat radhiallahuanhum terhadap Allah dan RasulNya, apabila telah berbuat sesuatu yang salah, segera mereka kembali bertaubat, dan sanggup menanggung segala hukuman yang bakal dikenakan ke atas mereka, demi karena hendak mensucikan diri mereka dari kotoran dosanya itu. Demikian pula ayat ini mengandung teguran Allah ke atas Nabi SAW yang ringan mengizinkan sebagian sahabat yang membuat keuzuran untuk melepaskan diri dari tugas berjihad dengan mengemukakan alasan yang tidak wajar. Ayat ini turun ke atas tiga orang sahabat yang membelakangi jihad tanpa sebab-sebab yang wajar.

Sesungguhnya Allah telah meridhai kaum Mukminin ketika mereka memberikan bai'at kepadamu di bawah pohonan itu, karena Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu diturunkan ketenangait ke atas mereka serta dibalasi mereka dengan pembukaan (penaklukan Makkah) yang dekat. Begitu pula dengan harta rampasan yang banyak, yang bakal mereka mendapatkannya, dan adalah Allah itu Maha Perkasa Maha Bijaksana." (Al-Fath: 18-19)
Ayat ini memuji sikap para sahabat Nabi SAW yang bersabar, ketika mereka dihalangi dari memasuki Makkah untuk berumrah pada peristiwa di Hudaibiyah, serta Allah ta'ala menjanjikan mereka penaklukan Makkah yang akan terjadi tidak berapa lama lagi.

"Orang-orang pertama dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar, (yakni yang memasuki Islam), dan mereka yang mengikutinya dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhainya, dan disediakan Allah buat mereka syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungAl-sungai, mereka kekal di dalamnya buat selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100)
Ayat ini memuji sikap kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang memeluk Islam dan bersabar menanggung segala bala bencana semata-mata karena menghendaki keridhaan Allah dan RasulNya, maka oleh Allah dijanjikan kepada mereka balasan syurga dan kenikmatannya yang mereka akan mendudukinya buat selamalamanya.

"Dan bagi orang-orang fakir (lemah) dan melarikan diri (berhijrah) yang diusir dari kampung halamannya dan (dirampas) harta bendanya karena menginginkan kelebihan (nikmat) dari Allah dan keridhaannya, dan mereka (bersedia) menolong Allah dan RasulNya, mereka itulah orang-orang yang benar. Dan mereka yang menduduki kota (Madinah) dan (setelah) beriman, mereka sangat suka orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menyimpan keinginan di dalam dada mereka dari apa yang diberikan (kepada orang-orang itu), karena mereka lebih mengutamakan orang lain dari diri sendiri, kendatipun mereka sedang berada dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 8-9)
Suatu pujian dari Allah ta'ala terhadap orang-orang yang berhijrah dari Makkah untuk menetap di Madinah karena hendak menyelamatkan kepercayaan mereka, dan supaya dapat menyembah Allah, Tuhan yang sebenarnya. Begitu pula dengan sikap kaum Anshar yang mahu menerima orang-orang pelarian Makkah itu, memberi mereka perlindungan, bantuan dan segala keperluan yang mereka perlukan. Malah mereka selalu mengutamakan orang-orang pelarian ini dari diri mereka sendiri, karena hanya hendak mencari keridhaan Allah dan RasuINya, meskipun mereka terpaksa berkorban apa saja. Mereka ini dikatakan Allah sebagai orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat.

"Allah telah menurunkan sebaik-baik bicara, iaitu Kitab (Al-Quran) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) yang berulang-ulang, gemetar karenanya bulu roma orang-orang yang memang takutkan Tuhannya, kemudian menjadi tenang pula bulu romanya dan hatinya kepada zikir (mengingati) Allah. Itulah dia petunjuk Allah, yang diberikan petunjuk itu kepada siapa yang dikehendakinya. Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tiada lagi siapa yang dapat menunjukinya." (Az-Zumar: 23)

"Hanyasanya yang beriman dengan ayat-ayat Kami ini, ialah mereka yang apabila diingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka lalu menyungkur sujud serta bertasbih dengan pujian terhadap Tuhan mereka, dan mereka tiada mengangkat diri. Terangkat lambungan mereka dari tempat tidur mereka (yakni meninggalkan tidur) karena hendak menyeru Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan harap, dan mereka membelanjakan sebahagian dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka. Tiada suatu jiwa pun yang mengetahui apa yang disediakan buat mereka dari cahaya mata (yakni berbagai-bagai nikmat) sebagai balasan terhadap apa yang mereka sudah kerjakan." (As-Sajdah: 15-17)
Demikianlah sifat para sahabat itu, apabila mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan kepada mereka, gemetarlah seluruh anggota mereka, karena sangat menghormati Kalamullah itu, lalu patuh kepada semua tuntutannya, karena itulah hati yang mendapat petunjuk dari Tuhan yang menciptakannya, karena sesat itu pada bila-bila masa saja mungkin menimpa, apabila Allah ta'ala mengangkat tangan dari melindunginya. Mereka juga tidak lupa rukuk dan sujud karena mengharapkan anugerah terhadap apa yang mereka kerjakan itu. Itulah sifatnya para sahabat Nabi SAW

"Dan apa yang ada di sisi Allah itu adalah baik dan kekal bagi orang-orang yang beriman, dan kepada Tuhan mereka bertawakkal. Dan mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji dan apabila mereka marah, mereka suka memberi maaf. Dan mereka yang menyambut panggilan Tuhan mereka (untuk beriman), lagi pula mereka menegakkan shalat, dan segala urusan mereka lakukan dengan bermusyawarah di antara sesama mereka, dan mereka membelanjakan dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka. Dan mereka yang apabila ditimpa penganiayaan, mereka senantiasa bantu- membantu." (As-Syura: 36-39)
Ini lagi dari sifat-sifat yang disebutkan Allah ta'ala buat para sahabat Nabi SAW iaitu apabila berlaku sesuatu yang merisaukan, mereka serahkan perkaranya kepada Allah ta'ala. Mereka senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan keji, suka memaafkan orang yang bersalah, suka bermusyawarah dari hal yang menyangkut diri mereka, bila ditimpa bencana sering yang satu membantu yang lain, dan mereka tidak lupa menafkahkan apa yang dikurniakan Allah dari kelebihan di dalam tangannya. Di samping menunaikan segala kewajiban yang pokok, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Semua sifat-sifat ini patutlah menjadi cermin kepada setiap Muslim Muslimah agar diliputi dirinya dengan rahmat Allah ta'ala.

"Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang telah menepati apa yang dijanjikan mereka kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur (mati), dan ada yang menunggu-nunggu, dan mereka tiada sedikit pun mengubah janji mereka itu. Agar Allah akan membalas orang-orang benar itu karena kebenaran mereka, dan disiksa pula orang-orang yang munafik, jika Dia kehendaki, ataupun dimaafkan mereka itu, sesungguhnya Allah itu adalah sangat suka mengampun dan mengasihani." (Al-Ahzab: 23-24)
Setiap kali mereka menempuh medan jihad, hasrat mereka ialah untuk mencapai syahid dengan apa cara sekalipun. Maka ada di antara mereka yang dipenuhi niat yang disimpan di dalam hatinya, yakni mendapat syahid, dan ada yang tidak, lalu dia terus menunggu dan mencari peluang yang baru. Tidak seperti orang munafik, yang bebuih lidahnya menyebut syahid, namun di dalam hatinya tidak sedikit pun mencita-citakannya. Malah ada kalanya mereka inginkan kehancuran Islam disebabkan benci hatinya terhadap Islam dan kaum Muslimin.

"Ataupun orang yang mematuhi (Tuhannya) di sepanjang malam dalam keadaan bersujud dan berdiri (menjalankan shalat) dan dia bimbang tentang hari akhirat serta mengharapkan rahmat Tuhannya, katakanlah, adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tiada mengetahui?!' (Az-Zumar: 9)
Tentu tidak sama orang yang patuh dengan orang yang tidak patuh. Orang yang membuka mata untuk beribadat kepada Allah di waktu malam, dengan orang yang tidur nyenyak di atas kasurnya. Jadi jika menginginkan balasan Allah yang baik, hendaklah bekerja kuat dalam menunjukkan kepatuhan kepadanya.

Kembali ke Atas