web space | free hosting | Business Hosting Services | Free Website Submission | shopping cart | php hosting
 
   
Pendahuluan  
Daftar Isi  
   
   
   
   


Pembentukan Ummat

Abu Bashir. Begitulah nama salah seorang sahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallaam.

Ketika jem'ah telah dibentuk dan siap dibarangkatkan. Seorang anak kecil berlari-lari mengejar ayahnya. Sambil sesengukan menangis ia memeluk kaki sang ayah lalu berkata, Ayah... ibu sakit, ayah... ibu sakit... Sang ayah hanya dapat memandang anaknya dan dengan sedikit bujukan dia telah meninggalkan anaknya. Saya harus tetap berangkat tekadnya, ini perintah Allah dan Rasul-Nya.

Telah menjadi kehendak Allah subhanahu wata'ala semua yang hidup akan mati tidak ada kuasa satu makhlukpun yang akan selamatkan, muliakan, hinakan, sehatkan, matikan seseorang kecuali dengan izin Allah ta'ala. Ibu dari sang anak dan Istri dari sahabat tersebut meninggal dunia. Sementara ia berada jauh dari mereka.

Terdengar berita jema'ah para sahabat yang dikirim Rasulullah SAW sampai ke Madinah Al Munawarah. Berkejaran anak-anak dan keluarga mereka untuk menyambut suami, ayah, abang, keluarga mereka. Tak tertinggal anak kecil tersebut telah berada di antara teman-temannya turut berlari-berkejaran menyambut kedatangan ayahnya. Dengan gagah dia duduk bersama ayahnya memasuki Madinah menuju Masjid Nabi. Duduk dipangkuan sang ayah menjumpai Rasulullah SAW yang akan memberikan laporan. Seakan tak mau berpisah lagi dengan satu-satunya tempat dia bermanja sekarang, ayahnya.

Rasulullah SAW mendengar semua laporan dan kemudian Beliau SAW memutuskan supaya sebagian dari mereka berangkat lagi termasuk Abu Bashir. Ya Rasulullah SAW, apakah engkau telah mendengar bahwa anak ini baru saja ditinggal mati oleh ibunya? tanya Abu Bashir. Pergilah engkau, semua keluarga di Madinah ini adalah keluarganya, jawab Rasulullah SAW.

Berangkatlah Abu Bashir meninggalkan sang anak dengan keyakinan bahwa Allah SWT Maha pemelihara. Meninggalkan seorang anak yang seharusnya bermanja, bermain dengan riang dan berada dalam kehangatan kasih sayang orang tua. Si anak secara bergilir berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, dengan rindu dan sedih menanti pulangnya sang ayah. Setiap hari selepas maghrib dia keluar dan memandang langit yang terbentang luas dengan Bulan yang termenung sediri.

Wahai bulan sesunguhnya kita sama.
Aku sendiri di atas bumi ini dan
engkau sendiri di langit sana,
ucap sang anak lirih.

Kepulan debu naik ke udara, suara derap lari kuda memenuhi angkasa. Satu demi satu wajah penunggangnya dilihat, dicarinya dimanakah ayah? Ah..., mungkin terlalu cepat kuda bergerak. Anak itu berlari memasuki masjid meninggalkan teman-teman sebaya yang telah berjumpa dengan ayah mereka. Ia berdiri di hadapan berharap berjumpa ayah yang tercinta. Rasulullah SAW meraihnya, mendudukkannya di pangkuan bersama Beliau SAW mendengar laporan dari sahabat-sahabatnya yang baru pulang. Kaum Muslimin telah Allah ta'ala menangkan.

Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Bashir ayah nak itu telah syahid... Suasana pun berubah menjadi pilu ketika anak tersebut mulai menangis, Rasulullah menghiburnya: "Wahai ghulam... Apakah engkau tidak suka apabila aku menjadi Ayahmu, 'Aisyah menjadi ibumu dan Fathimah menjadi kakak mu?..."

 

Penggalan Bayan Maghrib Ustadz Abdul Halim,
TSP, JB, April 2001, M'Sia.